:::: MENU ::::

Malaikat-malaikat Kecil Tuhan

Saat anda fokus untuk menjadi berkat bagi orang lain, Tuhan memastikan anda selalu dilimpahi berkat-Nya. – Joel Osteen

Saya selalu berpendapat bahwa melayani Tuhan harus berada di urutan teratas dalam daftar prioritas hidup. Bagi saya, melayani Tuhan harus didahulukan dari kepentingan dan kepuasan diri, karena saya percaya saat kita menghabiskan 15 hari untuk bekerja dan 15 hari untuk pelayanan, hasil yang kita peroleh dari 15 hari untuk bekerja itu akan dilipatgandakan oleh-Nya untuk menutupi 15 hari yang kita habiskan untuk pelayanan. Saya percaya bahwa saat kita mendahulukan Tuhan, kita tidak perlu kuatir akan hidup kita, karena Ia sendiri yang akan menjaga dan menjamin hidup kita (bdk Mat 6:25). Banyak pengalaman pribadi saya yang dapat membuktikannya. Perkenankan saya membagikan satu di antaranya, yang baru saya alami beberapa hari yang lalu.

Selama 7 – 8 bulan terakhir ini Tuhan memberkati saya dan Vicky dengan kesempatan bergabung dalam kepanitiaan Temu Raya Muda OMI (Teramo) Jakarta 2013, sebuah event yang menghadirkan hampir 1000 orang muda dari seluruh Paroki karya OMI di Indonesia. Kerja keras panitia selama berbulan-bulan merupakan persiapan untuk acara yang dilangsungkan pada tanggal 30 Juni – 6 Juli 2013, yang akhirnya berjalan dengan baik dan sukses besar (berdasarkan pendapat beberapa peserta dan para Pastor dan tamu undangan).

Di tengah-tengah persiapan acara, sekitar bulan Februari, tercetus wacana lamaran saya dan Vicky. Karena punya target untuk menikah tahun 2014, kami perlu memantapkan hubungan kami dan membawanya ke tahapan yang lebih serius sebelum jenjang perkawinan. Maka mulailah kami mencari tanggal yang tepat, khususnya tanggal di mana adik laki-laki Vicky sedang berada di Jakarta (adiknya sedang studi di Aussie). Setelah mencari tanggal, satu-satunya tanggal yang memungkinkan adalah 7 Juli 2013, which means exactly one day after Teramo. That was quite a dilematic situation. Kami harus melaksanakan lamaran pada tanggal itu. Di sisi lain, Teramo adalah pelayanan yang tidak mungkin kami tinggalkan. Kami benar-benar tidak yakin akan punya persiapan yang cukup untuk lamaran itu. Dengan modal nekat, dan kesadaran bahwa lamaran akan dibuat sesederhana mungkin, kami putuskan untuk melaksanakannya di tanggal 7 Juli tersebut.

Saya dan Vicky sama-sama awam soal lamaran. Keluarga kami pun tidak ingin model lamaran yang terlalu mengikuti adat tradisi, yang penting ada seserahan sekadarnya, kalung sebagai simbol ikatan, dan formalitas kata-kata “melamar”. Kami berdua menginginkan acara yang sangat sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu, ada beberapa hal yang tetap tidak bisa kami tinggalkan: keluarga besar perlu diundang, acara tidak bisa dilakukan di rumah karena jumlah undangan cukup banyak, dll. Di antara keluarga besar yang hadir, kami juga mengundang Romo Widi (moderator Seksi Kepemudaan Trinitas) dan Romo Bono (Provinsial OMI Indonesia). Vicky dekat dengan Romo Bono sejak kecil, saya dekat dengan Romo Widi karena kami bekerja bareng di Seksi Kepemudaan. Kami berdua menghabiskan sebagian besar waktu kami di pelayanan di gereja, dan mereka berdua kami anggap sebagai orang-orang yang signifikan dalam perkembangan iman dan hubungan kami. Romo Widi mengusulkan untuk memasukkan ibadat singkat pemberkatan pertunangan di dalam acara lamaran. Kami pikir itu adalah ide yang bagus. Maka susunan acara kami utak atik menyesuaikan dengan ibadat tersebut. Tidak lazim memang menyelipkan ibadat pertunangan dalam acara lamaran, tapi kami berpikir bahwa sangat amat perlu sekali memohon berkat Tuhan agar masa-masa persiapan menjelang perkawinan dapat kami lalui secara lebih matang. Kami tahu bahwa keluarga besar mungkin akan berpendapat acaranya kok tidak lazim, seserahannya kok tidak lengkap seperti biasanya, kok tidak diadakan di rumah, dll. Despite of those things, the show must go on. Toh dari awal kami sudah terbiasa untuk tidak ikut arus. We do what suits us the best.

Persiapan-persiapan tersebut kami lakukan sebelum Teramo, namun kami tidak bisa benar-benar fokus ke sana karena kami menaruh porsi perhatian yang lebih pada Teramo. Tanpa disadari persiapan untuk Teramo kami dahulukan daripada persiapan lamaran kami. Kami tahu betul acara lamaran itu penting, akan tetapi Teramo juga tidak kalah penting. Ada 1000 orang yang Tuhan percayakan kepada 100 orang panitia, dan kami adalah dua di antara 100 orang itu. Untuk menyiasatinya, kami membawa berkas-berkas dan persiapan lamaran yang perlu dirapikan dan dibahas ke Lembah Karmel. Tapi karena padatnya acara, berkas-berkas itu tidak tersentuh :p . Selama di Lembah Karmel, kami benar-benar tidak punya kesempatan membahas persiapan acara kami. Satu-satunya persiapan yang kami lakukan adalah memutuskan bahwa kami butuh cincin untuk pemberkatan pertunangan. Tidak adil rasanya kalau yang diikat dalam lamaran hanya pihak wanita (dengan kalung yang diberikan pihak pria).

Baru pada tanggal 6 Juni sore, setelah Festival Teramo diadakan, kami bisa mempersiapkan acara kami. Kami ambil parsel seserahan yang telah kami pesan seminggu sebelumnya, kami masukkan kue-kue, buah, dan permen ke kotak suvenir, dan sebagainya. Bahkan, kami baru mencari cincin pertunangan pada sore hari itu. Cincin yang kami beli tidak mahal, hanya sepasang cincin silver yang minimalis. Kami pikir, yang penting bukan mahal tidaknya cincin itu, melainkan makna yang terkandung di dalamnya: ikatan tidak putus / tiada akhir satu sama lain yang diberkati oleh Tuhan. Kami percaya berkat yang Tuhan berikan dalam ibadat pertunangan akan menjadikan cincin itu lebih mahal dari berlian jutaan rupiah sekalipun :)

Banyak kekhawatiran yang kami alami soal lamaran tersebut: apakah ibadat akan berlangsung baik, apakah pertemuan kedua keluarga bisa cair dan hubungan bisa lebih erat, apakah makanan, suvenir, dan tempat yang disediakan cukup, dan lain sebagainya. Amazingly, He did His part. Saya terkejut mengetahui bahwa ternyata Bude saya adalah guru SMA adiknya Vicky, bahwa salah satu Om nya Vicky adalah saudara dekat ibu saya, bahwa Pakde saya adalah guru SMA Om nya tadi, sehingga suasana menjadi begitu cair. Suvenir yang disediakan tidak kurang, tidak lebih, benar-benar pas. Makanan yang disajikan berlebih dan bisa dibawa pulang untuk kami makan enak selama beberapa hari :p. Kami benar-benar bersyukur semuanya dapat berjalan lancar.

Di tengah-tengah acara, Romo Widi menceritakan bahwa salah seorang panitia, Om Stefanus Chik (bukan nama sebenarnya :p ) mengatakan bahwa teman-teman panitia ingin berpartisipasi dalam acara kami dan mereka sudah menyiapkan kejutan untuk kami. Romo Widi berpesan agar kami pura-pura terkejut apabila saat rapat tanggal 8 Juli mereka melaksanakan kejutan itu.

Pada rapat evaluasi Teramo tanggal 8 Juli, saya dan Vicky bersiap-siap untuk mereka-reka kira-kira kejutan apa yang mereka akan buat. Dari awal sampai pertengahan rapat, tidak ada hal yang aneh. Hingga menjelang akhir, tiba-tiba si Om Stefanus Chik (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) memberi komando pada forum dan mereka semua berdiri, memegang kertas kecil dan mulai bernyanyi theme song Teramo yang liriknya diubah. Saya agak lupa bagaimana liriknya, tapi itu lirik paling maksa yang pernah saya lihat..hahaha..They gave Vicky a veil and a beautiful bouquet of flowers, and they gave us neck garlands and a chocolate cake with lit candles. Kami benar-benar tidak menyangka. Romo Widi asked us to act surprised. Well, we didn’t act. We were truly surprised. Setelah itu rapat kembali dilanjutkan. Saya mencium gerak gerik mencurigakan dari beberapa orang. I realized masih ada kejutan sesi dua. Mereka tidak akan puas hanya dengan hal seperti itu :p

Sigit Tampan dan Vicky Cantik

Sigit Tampan dan Vicky Cantik Memotong Kue

Begitu rapat selesai, saya dan Vicky berjalan menuju parkiran mobil. Hanya ada si APV hitam manis di tengah lapangan parkir. Mobil-mobil lainnya mengelilingi si hitam, menyalakan lampu, dan membunyikan klakson bersama-sama. And guess what, there were stickers all over the body of the car! We walked toward it, and they all ran to us and poured water and sprayed those birthday sprays on Vicky and I. We were really surprised! Ini penampakan si hitam setelah “dihias” oleh mereka.

P7080120_resized

P7080128_resized

P7080130_resized

P7080132_resized

P7080155_resized

 

Terakhir kali saya mendapat kejutan seramai dan seheboh ini adalah pada hari ultah saya di masa kuliah. Saya dan Vicky sungguh benar-benar terharu dan terkejut. This is a surprise we’ll never forget. Ini gerombolan begajulan yang “ngerjain” kami. Yang jongkok di sebelah kiri baju kuning (pakai baju abu-abu) itu lah yang namanya dari tadi saya samarkan.

P7080165_resized

P7080166_resized

 

Secara tidak langsung dan tidak kami sadari, kami memilih untuk lebih fokus pada Teramo daripada secara detil dan fokus mengurus acara lamaran dan pertunangan kami. Kami hanya bisa memohon Tuhan untuk memberikan keajaiban-keajaiban kecilnya untuk melancarkan acara kami walaupun dengan persiapan yang boleh dibilang minim dan ter-distracted. Namun lagi-lagi Dia melakukan “kebiasaan buruknya”: giving more than He’s asked. Kami berdoa memohon acara yang lancar, Dia memberi acara yang sukses dan berkelebihan. Kami berdua selalu memimpikan perayaan yang personal yang penuh canda tawa dan keakraban, Dia memberikan teman-teman yang luar biasa yang menjadikan itu nyata. Never even crossed our minds that He prepared this for us. Hari itu, malam itu, 8 Juli 2013, He, using the hands of our beloved friends, gave us the party we once dreamed of. Sungguh tidak ada yang perlu kita khawatirkan kalau kita mendahulukan mencari Kerajaan Allah.

Buat sebagian orang, keluarga berarti hanya orang-orang yang terhubung dalam satu garis keturunan darah. Buat saya dan Vicky, keluarga bukan hanya itu. Buat kami, keluarga memiliki makna lebih luas. Keluarga adalah kata yang kami pakai untuk mendefinisikan orang-orang yang saling menunjukkan kasih dan perhatiannya, yang saling berusaha mengerti dan menjaga hubungan, yang saling menghormati dan menghargai satu sama lain, yang dengan usaha  keras dan pengorbanan, mewujudkan kasih itu dengan tindakan nyata. Buat kami berdua, balon berbentuk hati, tulisan-tulisan gombal, birthday spray, stiker-stiker berbagai bentuk, dan senyum serta gelak tawa di wajah setiap orang di dalam foto di atas adalah ikatan yang juga berharga dan pantas dipakai sebagai materai “keluarga”.

Kami berdua mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa mengikutsertakan kalian dalam acara kami kemarin. Acara itu sebenarnya judul utamanya adalah lamaran, sehingga hanya melibatkan keluarga inti. But we’ll make sure that every single one of you gets invited to our wedding day. Vicky and I are very proud, happy, and feel being blessed abundantly to have you guys in our life. You guys rock! Kami berdoa agar Tuhan memberkati malaikat-malaikat kecil-Nya seperti kalian yang menebarkan kasih-Nya kepada setiap orang.

Terima kasih kepada seluruh saudara, keluarga besar, sahabat, dan semua pihak yang telah membantu kelangsungan lamaran dan pertunangan kami. Terima kasih atas ucapan-ucapan dan doa-doa yang teriring. Semoga Tuhan memberkati kalian semua.

PS: Up till now I still forget to remove the love-shaped stickers on the car’s head lamps -_-

 


4 Comments

So, what do you think ?