Skip to content

Idola

Saya tidak punya terlalu banyak idola, meskipun banyak yang mengidolai saya šŸ˜†.

Dulu waktu SMP, ada beberapa poster Alessandro Del Piero, pesepakbola negeri pizza yang populer saat itu, tergantung di tembok kamar tidur saya. Itu pun bukan karena saya terpukau melihat permainannya. Saat usia segitu mami papi selalu melarang anak-anaknya tidur larut malam, baik untuk nonton sepakbola, atau untuk nonton Dawson’s Creek, karena kami harus bangun pagi untuk sekolah. Maka sangat jarang saya bisa liat Juventus bertanding. Saya mengidolai mas Del Piero karena sepakbola begitu happening di antara teman-teman saat itu, dan Del Piero adalah satu dari beberapa pesepakbola yang populer saat itu.

Beranjak dewasa, selepas SMP, Tuhan jadi idola saya berikutnya. Karena jauh dari orang tua, dan harus berjuang bersaing sendirian di tengah teman-teman yang entah otak pintar dan kualitas dirinya yang luar biasa diciptakan di planet mana, saya yang waktu itu merasa paling bodoh dan tidak tahu apa-apa, hanya bisa bergantung pada Yang Maha Kuasa, yang ternyata keterusan sampai sekarang.

Selain Tuhan, waktu saya di masa itu juga banyak dihibur oleh karya-karya eyang Sapardi Djoko Damono. Orang bilang beliau penyair lintas jaman, karena mulai menulis syair (dan diterbitkan) dari jaman beliau SMA, sekitar tahun 50an, sampai sebelum tulisan ini dibuat. Saya juga mulai menulis puisi dari jaman SMA, dan diterbitkan. Diterbitkan di buku harian sendiri šŸ˜….

Karya-karyanya mind blowing. Saya gak tahu bagaimana cara mengungkapkan luar biasa indahnya pemilihan dan susunan kata eyang Sapardi. Setiap membaca puisi-puisi beliau, saya selalu menggelengkan kepala, heran, kok bisa beliau kepikiran menggunakan kata itu, menempatkannya di situ, sehingga bisa menimbulkan sebuah rasa tertentu.

Bagi saya, kata-kata yang lahir dari goresan pena beliau adalah hasil refleksi yang sangat mendalam dari hidupnya, dari hidup manusia. Saya merasa puisi-puisinya itu, kalau dihayati dan dikecap-kecap, bisa membantu saya berhenti sejenak di tengah-tengah riwehnya hidup ini, dan melihat kembali arti, makna, dan pemandangan-pemandangan indah dalam hidup saya. Lebih lagi, bagi saya, sastrawan seperti beliau, Jokpin, dll, adalah orang-orang jujur lan sederhana, yang pintar dan bermartabat, tapi kurang dihargai sebagaimana mestinya.

Puisi-puisi beliau seperti Aku Ingin, Hatiku Selembar Daun, Hujan Bulan Juni, Yang Fana Adalah Waktu, Catatan Masa Kecil, Kami Bertiga, dll, sukses menemani hari-hari saya sampai detik ini, bahkan mungkin seterusnya. Walau beliau tidak lagi ada, buku-buku puisinya akan tetap setia ada di dalam rumah saya. Karena yang fana adalah waktu, bukan? Kita abadi.

Selamat jalan, eyang. Semoga surga terhibur oleh kata-kata ajaibmu. Semoga darah katamu mengalir kembali pada suatu waktu.

Image copyright by Kompas.com

Published inArticlesFresh Air to BreathMy Life Story

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *