:::: MENU ::::

The 4th Lustrum of Taruna Nusantara

Many things happen in one’s life: beautiful moments and depressing moments, falling in love and breaking up, laughing and crying, events and decisions, and other things that complete them as one big piece. Among all the things took place in my life, there were some which I regret and would have ran from. Coming to Taruna Nusantara High School on 2002 was one of them.

Continue Reading


Domba, Semut, dan Rumah Kayu

/1/

Seekor domba pergi meninggalkan kawanan dan masuk hutan

Matanya berbinar karena logam kilau gemilau

Ketika seekor semut di seberang jurang memanggil, ia tegakkan badan, angkuhkan kepala

Meloncat jauh ke atas jurang

/2/

Seekor domba terbangun dengan memar-memar di seluruh badan

Dengan merah darah di bulu-bulunya, kasat sepetak padang, kolam air, dan rumah kayu

/3/

Pagi waktu itu

Seekor domba berjalan lunglai

pulang ke rumahnya…


Two Cents About Life Philosophy

Some people talk on the phone with their pals while sitting on a bus. Some others close their ears with earphones, listen to some good musics, and then fall asleep, which is, I think, the most effective way of spending time on a trip. People have their own method on killing time on a bus. Mine, are listening to some songs, pertaining my mind in sereneness, and thinking of some things I usually don’t have any chance to think about. Last Sunday, on the way to Cikarang, on the bus seat, my mind wildly wander to something about this life. Well, my life, at least.

Continue Reading


Cerita Bocah Kecil, Malaikat-malaikat, dan Masa Tua

Gadis kecil itu masih saja berjalan menyusuri satu tambah satu sama dengan dua

Sampai ketika ia tiba pada angka sepuluh dan duduk di bangku sekolahan dengan angka nol lebih banyak

Ketika malaikat-malaikat itu datang dan berdiam sejenak di atap rumahnya, ia masih saja berjalan sampai bertemu angka dua belas

Ketika malaikat-malaikat itu beranjak pergi dari gubuk itu, ia tak sempat bersalaman untuk mengucapkan kata pamit

Gadis kecil itu masih terus berjalan mengitari detik dan detak

Kali ini ditemani ia yang dilahirkan serahim dengannya

“Kita bisa berdoa”, kata seorang kawan

Tapi hujan tetap turun

Gadis kecil itu masih terus berjalan menikmati rintik-rintik

Dengan isak tangis ia menantang masa tua

Dengan isak tangis ia terus berjalan…

*untuk seorang kawan, yang dengan sepotong kisah hidupnya berhasil membuat kita menangis


The Person Who Get Me Back On The Line

Gw lupa gimana rasanya jadi blogger. Gw lupa gimana sensasi ketawa-ketawa sendiri baca comment orang di postingan gw. Well, sh*t happened, and I had been not in the mood of writing anything here. Until today, ada satu orang yang bikin gw obsesif banget sama dia, yang bikin gw memutuskan kalo gw HARUS, sekali lagi, HARUS, mendokumentasikan kisah ini di blog gw. He is Joey Tribbiani :D

Continue Reading


Ia Tidak Pernah Takut

Ia tidak pernah takut akan kanan atau kiri

Ia tidak gentar atas depan dan belakang

Ia hanya takut akan lorong gelap yang ditemuinya setelah menapak langkah kesekian ratus…

Sungguh dari semula ia tak akan bisa melihat kerikil atau batu kali di tengah jalan itu


Balada Tentang Malam

Di tengah-tengah keramaian dan suara orang berteriak-teriak

Semut itu berjalan menepi keluar dari lingkaran para manusia

Gelap di persimpangan gang menjadi saksi

Sepi malam ini

Gelap di persimpangan jalan bisu bernyanyi

Mimpi tak jadi arti


Ranting Yang Lurus

Ketika ia memegang sebuah ranting bercabang dua

Selalu ingin dipatahkannya salah satu cabangnya sehingga menjadi satu garis lurus horizontal

Tapi bunyi “krak” nya berteriak lebih dulu

Jauh sebelum rasa takut datang karena ketidaktahuan

Pun setelahnya garis itu tetap tidak bisa lurus


Bait-bait Suci Tentang Alam

Aku berjalan di tengah2 hutan menyisir sungai menuju air terjun di ujung bumi

Ketika sebuah kembang taman bermunculan hadir pula persimpangan 3 arah masing-masing berjarak 50 derajat

Kepala tengadah menghadap bintang

Tangan terbuka memeluk gunung

Hijau hijau coklat kelabu

Mata terpejam berucap tanya

Tetap

Butuh kebesaranMu, Wahai Penguasa…


This is Our Fate, I’m Yours

Banyak cara yang dipake orang buat spending their lebaran holiday this year. Mulai dari mudik ke kampung selama 1 minggu, sampe dengan tidur2an di jalanan Jakarta rumah karena cuma dapet libur beberapa hari. Gw dan beberapa temen2, ngabisin liburan dengan cara yang beda. Kita menjauh dari kota jakarta yg tetep bising, naik gunung, bercumbu dengan alam, dan menikmati keagunganNya dari dekat, untuk menyadari betapa kecilnya kita di hadapan kebesaranNya (tsssaaaah)…

Continue Reading