Skip to content

Author: Sigit Noviandi

Bersyukur

Sepulang rapat dengan Seksi Kepemudaan dari paroki dan stasi kemarin malam, saya dan istri mengitari komplek sekitar cluster tempat kami tinggal, bermaksud meredakan gemuruh di dalam perut. Saya kemudian mengarahkan mobil masuk ke dalam komplek ruko setelah melihat sebuah petromak masih menyala menerangi gerobak nasi goreng di depan sebuah ruko. Ketika saya parkir, tepat di depan gerobak nasi goreng itu, sebuah kedai kecil yang ditutupi spanduk dan terpal menarik perhatian kami. Di atas spanduk itu terpampang foto-foto ‘produk’ dari si kedai: ayam goreng, soto ayam, dll.

The Burden of A Name: A Birthday Resolution

If I do not become a Saint when I am young, I shall never become one. – St. John Berchmans

I was baptized under the protection of the patron of altar boys: St. John Berchmans. I read about him once and found some facts about him that turned me ashamed and felt so burdened: he is just a young man, yet is called holy. He loved to make pilgrimages, walking barefoot through journeys of miles while praying the Rosary Prayer. He kept himself holy and clean of sins until he died at the age of 22, which granted him the beatification.

Another Quality Time with The Lord

Bagiku, mengharapkan keajaiban dan mukjizat bukan berarti harus melihat penampakan Tuhan dalam rupa fisik yang kita inginkan, bukan berupa penglihatan akan air mata yang keluar dari Corpus Christi di Salib, bukan berupa air yang berubah menjadi anggur setelah kita berdoa, bukan berupa sesosok malaikat bersinar yang membangunkan kita di tengah malam. Bagiku, keajaiban dan mukjizat adalah hal-hal baik yang ada di hidup sehari2, namun acapkali kita tidak sadari. Bukan hal mudah. Tapi tidak juga sulit kalau kita mau. Di hari keempat peziarahanku di Surabaya, ada kejadian unik yang mendorongku untuk membagikan sedikit cerita ini.