:::: MENU ::::
Posts tagged with: puisi

Goresan Singkat Tentang Sapardi

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

– Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono –

Kalau ada sebuah pertanyaan, “Siapakah penyair yang paling anda kagumi?” dengan pasti saya akan memberikan dua nama: Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas opini saya mengenai nama kedua.

Continue Reading



Putaran Keduaempat

Suara naviri masih terdengar dari aula langit

Ketika mereka duduk di depan sebuah teras dan bercakap bernyanyi

“Kenapa?”

“Ya karena..”

Tiga tiga puluh saat sabda datang dan mengundang diri asik bermain dalam tanya mengapa titik ini berputar balik saat hati masih bisa merasa?

Jawaban yang sama dari mengapa setelah dua tiga lima sembilan adalah empat buah nol dengan satu titik dan bukan dua empat nol nol

Begitu pentingnya nol bagi-Mu, bukan?

dari inspirasi yang datang bersama aubade pukul 9.45 yang disampaikan melalui A+, tentang pertanyaan aneh, tapi filosofis tak terhingga.

dari inspirasi yang datang dari dia yang sempat menarik hati, dan kemarin menyita detik-detik ku, yang datang dari Dia, tentang perasaan yang aneh, tapi dalam tak terselami…


Apa Hebatnya Seorang Romo

Apa hebatnya seorang manusia yang disebut Romo itu?
Bukankah ia terlahir dari butir-butir nasi putih di atas peluh bertabur bintang?

Bukankah sosok biasa itu juga bekerja di atas dua kaki dan berjalan di atas dua tangan, tidak punya sayap dan tidak bisa terbang?

Apa hebatnya seorang Romo?

Ia tidak lebih terang dari bulan yang menjadikan malam dari siang dan tidak lebih panas dari mentari yang menjadikan siang dari malam

Namun kalau kau pandang malam di luar sana

Pernahkah bergema suara berkutat

“Maukah kau jadi aku?”

Yang terus dan terus dan terus saja diteriaki, “Jangan aku, jangan aku”?

Wahai manusia-manusia rendahan

Pernahkah tapak kakimu menginjak bara-bara api di luar sana hanya sekedar untuk meneteskan air mata bagi orang lain?

Bukankah dari titik ini kita kabur dan berlari?

Bersembunyi dari cahaya yang masih terus bertanya, “Maukah kau jadi aku?”

Apa hebatnya seorang Romo?

Tapi bukankah dari sebuah rahim yang kosong kita lahir?

Bukankah dari keheningan yang dalam puisi terindah lahir?

Dan dari kekosongan itulah

Lahir sebuah kesempurnaannya…

Johanes Berchman Sigit Noviandi (Komsel PU)

Rumah Putih, Cikarang

7 September 2008, 21.05

Untuk Rm. Antonius Antara Pr.


Laskar Pelangi

Ada 2 kejadian lucu di weekend gw minggu lalu. Yang pertama gw sebut dengan tragedi-mo-nelp-si-kampret-malah-nyambung-ke-lutung. Kejadian diawali dengan maksud gw yang mo telp temen gw, buat janjian ke gereja. Sebut saja nama temen gw itu Alex (seperti biasa, nama disamarkan).

Tuut…tuut…(telp berdering, bukan telp kentut).

Suara-di-seberang-telp : halo.

Sigit Ganteng: Halo selamat sore, bisa bicara dengan Alex?

Suara-di-seberang-telp : hah?

Sigit Ganteng: Iya, Alexnya ada?

Suara-di-seberang-telp: Alex?

Sigit Ganteng: *mikir2 kok kayanya kenal suaranya*

Suara-di-seberang-telp: Lo mabok git?

Sigit Ganteng: Setan. Banday ya??Salah pencet nomor gw.

Banday Kasarung: buahuahuahuahuahua.

Gua malu dengan sukses. Continue Reading


Puisi Kumbang

seekor kumbang hinggap pada randu kering
meninggalkan asap kehitaman seperti mendung dan cuaca gersang
di sebuah taman: mawar berdiri menyanyikan lagu cinta
si lebah hanya lewat
ah, Engkau dulu yang pertama bukan?

Johanes Berchman Sigit Noviandi, Februari 2008


Balada Rama dan Sinta

Aku mendapat ilham tentang jiwa – jiwa yang hidup

Lewat kata – kata singkat

dan cerita tak singkat

Inilah lakon Sang Ksatria…dan..

O,Sinta!

Satu waktu langit masih cerah

Siang tak lagi gerah

pun desah…

Hanya damai menyapa hati dewi

“Selamat datang Rama! Selamat tiba!”

Dan kemilau langit tersenyum : Ngathuraken sugeng pambagya!

Ya, layaknya siniram tirta amrta

Langit masih cerah

Siang tiada gerah

“Pangertos tresna ingkang agung!”

Satu…dua…

Tiga detik….

Badai tiba!

Mahabhaya! mahabhaya!

Dewi pergi! Sang dewi pergi!

Bethara jahat terbang

dengan hangin

bersama Sang Dewi, Sinta sing ayu

bersama saraga!

Sampaikan salam pada Rahwana!

Sampaikan salam pada Dasamuka!

Langit tiada ada cerah

Siang kian gerah

Cuma sutra hitam menyapa malam

Lewat getir – getir hujan

Deras! Guruh! Sedih! Tangis!

Langit nangis: Boten wonten tresna ingkang agung!

Penuh guna kawan

Hanoman pergi

Tanpa kawaca, tak pakai kawaca

Melesat…. ke decantara ia dengan para kethek

bong….obong….obong…..obong….

Hanoman si Kethek Putih

Sowan taman Sinta dijak mulih

Konangan Indrajit lan patih

ning Hanoman ora wedhi getih

eeeeee……la kae Ngalengkadirojo

diobong…diobong….

Dasamuka nangis gereng – gereng

Sejak kapan perang tak kenal mayat?!

Tiada kan pernah ada, sayang

Mari menangis

Banyak kethek putih ejawantah antaka

Hei! Nyaris kalah si Rama itu

Dilah muncul, tak peduli langit gelap

Pakai dhanuh ini, wahai ksatria

Dan hru terbuang…terpecah!

dan hru terbang, melayang terpa si Dasamuka

ha…ha…ha…ksatria kita menang!

Tapi langit belum cerah

Ada ragu setitik akan warna putih

Hei, ada gadis cantik membakar kaki!

Tidak! Tidak terbakar!

Amboi!

Tapi kini langit cerah

Ternyata….

Ternyata?

Merah tak cukup pekat buat bakar putih pekat

Langit cerah, siang tiada gerah

Semua bernyanyi

Inilah abadi bahagia Rama dan Sinta!

Johanes Berchman Sigit Noviandi,16 Februari 2005

Diikutsertakan dalam lomba Penulisan Puisi Budaya UNESCO


Kisah Kecil tentang Salib

/1/

Seorang anak

Terbangun pagi buta

Langkah gontainya menerawang

Memandang hampa gelap

/2/

Seorang anak

Terbagun kala petang

Hati kecilnya berkata

“Bapa…”

/3/

Seorang anak

Terbangun pagi buta

Berlari ia

Ke sebuah salib!

Johanes Berchman Sigit Noviandi

21 Februari 2008


Air Itu Datang Mengganggu Tidurku

Sel-sel neuron di cerebelum tetap saja menghantarkan derai-derai statis ketika ketenangan mencekam

Seketika setitik kuk jatuh, menyeret kesadaran perlahan berpindah

menuju kekhilafan tak tentu arah

Kulalui tidur tanpa mata tertutup, karena waktu berjaga sudah tiba

dan panjang malam itu…

Tak henti kuterisak, akhiri semua inirain.jpg

Kalau Kau mau, wahai Sumber Kehidupan?

untuk kediaman kesayangan ku, yang dilanda bah malam ini…