:::: MENU ::::
Posts tagged with: poet

Goresan Singkat Tentang Sapardi

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

– Aku Ingin, Sapardi Djoko Damono –

Kalau ada sebuah pertanyaan, “Siapakah penyair yang paling anda kagumi?” dengan pasti saya akan memberikan dua nama: Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono. pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas opini saya mengenai nama kedua.

Continue Reading


Putaran Keduaempat

Suara naviri masih terdengar dari aula langit

Ketika mereka duduk di depan sebuah teras dan bercakap bernyanyi

“Kenapa?”

“Ya karena..”

Tiga tiga puluh saat sabda datang dan mengundang diri asik bermain dalam tanya mengapa titik ini berputar balik saat hati masih bisa merasa?

Jawaban yang sama dari mengapa setelah dua tiga lima sembilan adalah empat buah nol dengan satu titik dan bukan dua empat nol nol

Begitu pentingnya nol bagi-Mu, bukan?

dari inspirasi yang datang bersama aubade pukul 9.45 yang disampaikan melalui A+, tentang pertanyaan aneh, tapi filosofis tak terhingga.

dari inspirasi yang datang dari dia yang sempat menarik hati, dan kemarin menyita detik-detik ku, yang datang dari Dia, tentang perasaan yang aneh, tapi dalam tak terselami…


Balada Rama dan Sinta

Aku mendapat ilham tentang jiwa – jiwa yang hidup

Lewat kata – kata singkat

dan cerita tak singkat

Inilah lakon Sang Ksatria…dan..

O,Sinta!

Satu waktu langit masih cerah

Siang tak lagi gerah

pun desah…

Hanya damai menyapa hati dewi

“Selamat datang Rama! Selamat tiba!”

Dan kemilau langit tersenyum : Ngathuraken sugeng pambagya!

Ya, layaknya siniram tirta amrta

Langit masih cerah

Siang tiada gerah

“Pangertos tresna ingkang agung!”

Satu…dua…

Tiga detik….

Badai tiba!

Mahabhaya! mahabhaya!

Dewi pergi! Sang dewi pergi!

Bethara jahat terbang

dengan hangin

bersama Sang Dewi, Sinta sing ayu

bersama saraga!

Sampaikan salam pada Rahwana!

Sampaikan salam pada Dasamuka!

Langit tiada ada cerah

Siang kian gerah

Cuma sutra hitam menyapa malam

Lewat getir – getir hujan

Deras! Guruh! Sedih! Tangis!

Langit nangis: Boten wonten tresna ingkang agung!

Penuh guna kawan

Hanoman pergi

Tanpa kawaca, tak pakai kawaca

Melesat…. ke decantara ia dengan para kethek

bong….obong….obong…..obong….

Hanoman si Kethek Putih

Sowan taman Sinta dijak mulih

Konangan Indrajit lan patih

ning Hanoman ora wedhi getih

eeeeee……la kae Ngalengkadirojo

diobong…diobong….

Dasamuka nangis gereng – gereng

Sejak kapan perang tak kenal mayat?!

Tiada kan pernah ada, sayang

Mari menangis

Banyak kethek putih ejawantah antaka

Hei! Nyaris kalah si Rama itu

Dilah muncul, tak peduli langit gelap

Pakai dhanuh ini, wahai ksatria

Dan hru terbuang…terpecah!

dan hru terbang, melayang terpa si Dasamuka

ha…ha…ha…ksatria kita menang!

Tapi langit belum cerah

Ada ragu setitik akan warna putih

Hei, ada gadis cantik membakar kaki!

Tidak! Tidak terbakar!

Amboi!

Tapi kini langit cerah

Ternyata….

Ternyata?

Merah tak cukup pekat buat bakar putih pekat

Langit cerah, siang tiada gerah

Semua bernyanyi

Inilah abadi bahagia Rama dan Sinta!

Johanes Berchman Sigit Noviandi,16 Februari 2005

Diikutsertakan dalam lomba Penulisan Puisi Budaya UNESCO