:::: MENU ::::

Hoax

Saya heran dengan mereka-mereka yang menyebarkan sebuah berita/broadcast message tanpa diverifikasi dulu kebenaran dan sumbernya.

Kemarin ada sebuah broadcast message menyebar di Whatsapp (saya tidak tahu apa beritanya ada di media sosial lain juga), yang isinya memberitahu dan menghimbau untuk menghindari suatu kawasan (isi berita dan detilnya tidak perlu saya sebutkan supaya tidak bikin heboh lagi). Yang jelas, beritanya terpercaya, dari sumber yang kredibel, dan awalnya disebarkan di sebuah milis yang terpercaya juga. Saya termasuk salah satu orang tangan pertama yang mendapat berita itu.

Berita itu disebarkan oleh seseorang yang memang punya kapasitas cukup untuk membuat pengumuman seperti itu, dan saya cukup yakin, atas sepengetahuan atasannya. Sebut saja orang itu A, dan anggap saja jabatannya Z. Setelah berita tersebar beberapa jam, muncul sebuah broadcast message lain yang isinya “Berita itu katanya hoax, dibuat untuk menakut-nakuti. Saya sudah cek di website abcdef.com (website dirahasiakan, tidak perlu dibuka dibrowser alamat web ini :D), jabatan si A adalah Y, bukan Z.”

Yang menarik adalah, memang si A pernah menjabat sebagai Y, tapi jabatan itu tidak menegasikan kredibilitas berita awal tadi, karena baik sebagai Y maupun Z, menjadikan A berada di dalam lingkaran internal mereka-mereka yang punya informasi itu dan menyebarkannya pertama kali. Lagipula, berita awal itu sebenarnya dibuat bukan untuk menakut-nakuti, tapi sekedar informasi untuk kenyamanan dan keamanan bersama, untuk sekedar siaga. Sama saja seperti kalau kita dapat berita “Hindari Bundaran HI, akan ada demo besar-besaran mahasiswa”.

Yang lebih menarik lagi adalah, saya baca artikel di website yang dimaksud (link artikel disertakan di broadcast message yang menyebutkan bahwa berita awal tadi adalah hoax), di sana jelas dikatakan bahwa “A menjabat sebagai Y (sekarang menjabat sebagai Z)”. Ada kemungkinan bahwa si penulis artikel menambahkan kalimat dalam kurung setelah sanggahan berita tersebut tersebar. Bisa jadi dia merasa tidak enak karena jabatan si A sebagai Z menjadi dipertanyakan. Tapi, kalaupun memang demikian, harusnya ada satu dua orang yang sudah baca dan mempertanyakan dong, “ini di artikel si A jabatannya Z kok”. But no one questioned that second broadcast message. Bahkan sampai pagi ini saya masih menerima broadcast message itu di salah satu group WA :D. Website artikel tersebut kredibel, bahkan adalah website ofisial organisasi tempat si A berkarya. Yang perlu dipertanyakan adalah yang menyebarkan tanpa membaca dulu artikelnya.

So, please lah, sebelum menyebarkan sebuah berita, telusuri dulu asal-usulnya, baca semua sumber yang diberikan, atau tanya kepada orang yang pada kapasitasnya untuk memverifikasi keabsahan berita tersebut. Baterai HP dan waktu teman-teman Anda terlalu berharga untuk sekedar menerima berita hoax :D.


So, what do you think ?