:::: MENU ::::
Browsing posts in: Poems

Balada Rama dan Sinta

Aku mendapat ilham tentang jiwa – jiwa yang hidup

Lewat kata – kata singkat

dan cerita tak singkat

Inilah lakon Sang Ksatria…dan..

O,Sinta!

Satu waktu langit masih cerah

Siang tak lagi gerah

pun desah…

Hanya damai menyapa hati dewi

“Selamat datang Rama! Selamat tiba!”

Dan kemilau langit tersenyum : Ngathuraken sugeng pambagya!

Ya, layaknya siniram tirta amrta

Langit masih cerah

Siang tiada gerah

“Pangertos tresna ingkang agung!”

Satu…dua…

Tiga detik….

Badai tiba!

Mahabhaya! mahabhaya!

Dewi pergi! Sang dewi pergi!

Bethara jahat terbang

dengan hangin

bersama Sang Dewi, Sinta sing ayu

bersama saraga!

Sampaikan salam pada Rahwana!

Sampaikan salam pada Dasamuka!

Langit tiada ada cerah

Siang kian gerah

Cuma sutra hitam menyapa malam

Lewat getir – getir hujan

Deras! Guruh! Sedih! Tangis!

Langit nangis: Boten wonten tresna ingkang agung!

Penuh guna kawan

Hanoman pergi

Tanpa kawaca, tak pakai kawaca

Melesat…. ke decantara ia dengan para kethek

bong….obong….obong…..obong….

Hanoman si Kethek Putih

Sowan taman Sinta dijak mulih

Konangan Indrajit lan patih

ning Hanoman ora wedhi getih

eeeeee……la kae Ngalengkadirojo

diobong…diobong….

Dasamuka nangis gereng – gereng

Sejak kapan perang tak kenal mayat?!

Tiada kan pernah ada, sayang

Mari menangis

Banyak kethek putih ejawantah antaka

Hei! Nyaris kalah si Rama itu

Dilah muncul, tak peduli langit gelap

Pakai dhanuh ini, wahai ksatria

Dan hru terbuang…terpecah!

dan hru terbang, melayang terpa si Dasamuka

ha…ha…ha…ksatria kita menang!

Tapi langit belum cerah

Ada ragu setitik akan warna putih

Hei, ada gadis cantik membakar kaki!

Tidak! Tidak terbakar!

Amboi!

Tapi kini langit cerah

Ternyata….

Ternyata?

Merah tak cukup pekat buat bakar putih pekat

Langit cerah, siang tiada gerah

Semua bernyanyi

Inilah abadi bahagia Rama dan Sinta!

Johanes Berchman Sigit Noviandi,16 Februari 2005

Diikutsertakan dalam lomba Penulisan Puisi Budaya UNESCO


Dunia Bercumbu

Aku memimpikan tanah-tanah gersang yang subur

Tanpa pagar-pagar bambu yang meneriakkan namanya sendiri

Di dalamnya tiada warna

Semua putih, semua hitam

Aku memimpikan hari tanpa malam dan siang

Dalamnya hanya ada satu waktu

Satu matahari

Aku memimpikan bumi tanpa cakrawala yang memisahkan langit dan lautan

Di dalamnya semua bernyanyi satu lagu

Aku merindukan dunia tanah gersang yang subur tanpa warna

Di dalamnya ada satu Tuhan

satu kulit

satu tubuh

satu tempat lahir

di mana semua dapat bercumbu di atas jurang


Serpihan-serpihan Yang Tersisa

Beberapa karya gua sempet tercecer ke mana-mana. Ada yang tertulis di HP, ada yang gw posting ke blog friendster, ada yang gua tulis di buku, dll. Jadi sekarang saatnya ngumpulin semua yang belum gw post ke sini. Enjoy!

4 Carik Tentang Chairil

/1/

Aku baru pulang dari Bekasi

Yang masih membawa tulang-tulang berserakan

Menengok terus ke arah jam dinding yang berdetak

/2/

Tapi tanpa pedang di tangan kanan

Tanpa peluru menembus dadaku

Bukankah aku hidup seribu tahun lagi?

/3/

Aku dengan kata-kata

Bukan nyiur yang melambai

Burung berkicau

Atau bambu bersiul

/4/

Aku dengan kata-kata

Mengepalkan tangan sebagai tanda

Tanpa kata tak arti hidup

Tanpa hidup tak arti hidup

Johanes Berchman Sigit Noviandi, 2004, didedikasikan kepada Chairil Anwar, sang lelaki bermata merah yang. Melalui ‘Aku’ nya, beliau mengajarkanku betapa luar biasanya menikmati keindahan puisi. Satu-satunya puisi yang kuikutsertakan di perlombaan, dengan hasil Juara 2 di Universitas Sanata Dharma.

Biru

biru melanda

tiada sua

tak berkata-kata

mendung

gerimis

lalu deras

mengapa kau selalu

menerpa debu

wahai kembang

kesinaranku?

Johanes Berchman Sigit Noviandi, 2006

Dongeng Tentang Pagi

mentari pagi

kicau pagi

hembusan pagi

antara jiwa-jiwa mati

dan nyawa bangun lagi

o, betapa megah sang pagi

o, betapa besar sang pencipta pagi

Johanes Berchman Sigit Noviandi, 2006

Pasar Malam

seorang anak kecil lelaki

dan sebuah pucuk malam

sebuah pasar dan keramaian

dan semarak orang berbincang

bintang-bintang

bulan-bulan

adakah sinarnya

menyepiku?

Johanes Berchman Sigit Noviandi, 21 Juli 2006

Sebuah Persimpangan

tibaku pada sebuah persimpangan

di sisi-sisi keramaian

yang terus saja berteriak-teriak menyerukan nama-nama bunga

haruskah kuterbang di awan

menyepi lalu sepi?

atau harus kubersauh lewat tangis

lalu tertawa seperti gila?

tibaku pada sebuah persimpangan

menjejak langkah dengan jalan yang tak pendek

tibaku pada sebuah persimpangan

menjelma aku

memudar aku

Johanes Berchman Sigit Noviandi, 2006,

terlahir dari kebimbangan saat harus memilih…

Rumah Bercat Putih

ujung jalan panjang

selesai kisah-kisah tak panjang

rumah bercat putih

tegak

berdiri

mimpi

. . .

aku selalu bermimpi tentang rumah bercat putih

lari anak sehari-hari

tawa istri dan suami menari-nari

betapa tak selesai pusara hidup

oleh rumah bercat putih

betapa ingin hidup

dalam rumah bercat putih

aku selalu ingat rumah bercat putih

lewat badai-badai yang datang

dan pergi lagi

yang datang dan lagi-lagi pergi!

aku selalu bermimpi tentang rumah bercat putih

tentang goresan dengan sang putri

tentang doa atas mimpi-mimpit

Johanes Berchman Sigit Noviandi, 27 Agustus 2006,

tentang masa lalu yang biar saja terkubur dalam memoar

Siluet Tentang Syukur

AKu mendaki puncak gunung tertinggi

dan melihat hamparan berlian tak kasat mata

Aku lari ke dalam laut

dan warna warni bias

Aku bisu di ramai malam

dan dewi senandung merdu

Kunyalakan lilin, tiada ada sanggup nyatakanMu

Johanes Berchman Sigit Noviandi, November 2007,

semoga layak melukiskan kebesaranNya

Bintang Pemberi Makan

Malam membias cahaya bintang-bintang ketika sebutir benih ara terbawa angin

dan sampai di atas tanah gersang

Dari atas keheningan aku minum dari hujan dan makan dari warna pelangi

yang membujur dari titik nol kembali ke tiga enam nol

Sebatang lemah bakal ara menunas dari bijinya yang terhempas angin,

menandai 20 detik yang terlewat dengan goresan-goresan tangan di atas tanah
Malam membias cahaya bintang-bintang ketika pohon ara mulai menjulang ke atas,

menantang dunia dengan kata-kata

Di titik ini Dia kirim bintang-bintang pemberi makan

Pemberi minum

Pemberi tanda kasih-Mu, bukan?


Pages:123