:::: MENU ::::
Browsing posts in: Poems

Bait-bait Suci Tentang Alam

Aku berjalan di tengah2 hutan menyisir sungai menuju air terjun di ujung bumi

Ketika sebuah kembang taman bermunculan hadir pula persimpangan 3 arah masing-masing berjarak 50 derajat

Kepala tengadah menghadap bintang

Tangan terbuka memeluk gunung

Hijau hijau coklat kelabu

Mata terpejam berucap tanya

Tetap

Butuh kebesaranMu, Wahai Penguasa…


Mahadewi Angka 10

Kalau ku berlari dan mengejar angka 10

Biar malam terus malam tak terlihat dia yang bernama dewi itu

Cukup kupadu saja dua angka tersebut

Cukup buatku.

Kalau ku bernafas dan terus menatap angka 10

Sembilan pelangi pun tiada cukup indah

Cukup kutambah saja satu dan nol itu

Cukup.


Takaran Langit

jika saja

dunia punya takaran

untuk mengukur tingginya langit

aku pasti melompat sampai ke ujungnya yang paling tinggi

dan berteriak-teriak kegirangan

ada dewi yang terbang bersamaku hari ini…


Menghitung Hari

sisa dua hari

menuju penghabisan

seandainya masih tersisa lebih

biar ku dapat berpikir dan menabuh rasa

bukan tanpa tau apa


Putaran Keduaempat

Suara naviri masih terdengar dari aula langit

Ketika mereka duduk di depan sebuah teras dan bercakap bernyanyi

“Kenapa?”

“Ya karena..”

Tiga tiga puluh saat sabda datang dan mengundang diri asik bermain dalam tanya mengapa titik ini berputar balik saat hati masih bisa merasa?

Jawaban yang sama dari mengapa setelah dua tiga lima sembilan adalah empat buah nol dengan satu titik dan bukan dua empat nol nol

Begitu pentingnya nol bagi-Mu, bukan?

dari inspirasi yang datang bersama aubade pukul 9.45 yang disampaikan melalui A+, tentang pertanyaan aneh, tapi filosofis tak terhingga.

dari inspirasi yang datang dari dia yang sempat menarik hati, dan kemarin menyita detik-detik ku, yang datang dari Dia, tentang perasaan yang aneh, tapi dalam tak terselami…


Tetes Lelah

Tetes hujanku membawa seribu gelombang dan pecahlah karang
Otot-otot yang keluar dan nafas terbatuk-batuk
Lelahkah?

Tujuh belas kali ini membawa tanda besar
katanya hebat
‘untuk apa?’ tanyaku


Apa Hebatnya Seorang Romo

Apa hebatnya seorang manusia yang disebut Romo itu?
Bukankah ia terlahir dari butir-butir nasi putih di atas peluh bertabur bintang?

Bukankah sosok biasa itu juga bekerja di atas dua kaki dan berjalan di atas dua tangan, tidak punya sayap dan tidak bisa terbang?

Apa hebatnya seorang Romo?

Ia tidak lebih terang dari bulan yang menjadikan malam dari siang dan tidak lebih panas dari mentari yang menjadikan siang dari malam

Namun kalau kau pandang malam di luar sana

Pernahkah bergema suara berkutat

“Maukah kau jadi aku?”

Yang terus dan terus dan terus saja diteriaki, “Jangan aku, jangan aku”?

Wahai manusia-manusia rendahan

Pernahkah tapak kakimu menginjak bara-bara api di luar sana hanya sekedar untuk meneteskan air mata bagi orang lain?

Bukankah dari titik ini kita kabur dan berlari?

Bersembunyi dari cahaya yang masih terus bertanya, “Maukah kau jadi aku?”

Apa hebatnya seorang Romo?

Tapi bukankah dari sebuah rahim yang kosong kita lahir?

Bukankah dari keheningan yang dalam puisi terindah lahir?

Dan dari kekosongan itulah

Lahir sebuah kesempurnaannya…

Johanes Berchman Sigit Noviandi (Komsel PU)

Rumah Putih, Cikarang

7 September 2008, 21.05

Untuk Rm. Antonius Antara Pr.


Sebuah Kisah dari Jaman Lampau

Aku pernah bertanya dari mana ia datang
yang dijawabnya hanya dengan senyuman

Di antara ujung-ujung pelangi aku bernyanyi bersamanya, membuang kotoran-kotoran dari satu tetes embun ke tetes embun yang lain, dan masih saja bertanya dari mana ia datang sampai tetes ke tiga ratus enam lima

Aku pernah bertanya ke mana ia pergi
yang dihempaskannya dengan sunyi

Jalanan penuh pepohonan kuhitung dari satu sampai delapan, dan sampai sekarang aku masih bertanya betapa bodohnya kakiku melangkah melewati pohon-pohon itu tanpa memanjat ke atasnya sekedar memandang sekeliling mencari dia

Aku pernah bertanya dari mana ia datang
“Dari masa lalu mu yang hilang sesaat”, dia jawab.

for the one, who came back after a while…


Aku Mengucap Syukur

Aku mengucap syukur ya Raja Semesta Alam

Atas rerumputan yang gemilau karena embun

Atas suara pipit yang bernyanyi: pujilah Tuhan Sang Pencipta!

Atas sejuknya wearnaan langit yang memberi hidup pada mendung dan gerimis

Atas indahnya udara pagi, atas ramainya keheningan yang mengisi relung-relung realita

Aku mengucap syukur wahai Kepenuhan Segala Peristiwa dalam hidupku

Atas hati yang menyembah, masuk perjamuanMu…

Johanes Berchman Sigit Noviandi

16 Maret 2008, Halaman Wacana Bakti 


Puisi Kumbang

seekor kumbang hinggap pada randu kering
meninggalkan asap kehitaman seperti mendung dan cuaca gersang
di sebuah taman: mawar berdiri menyanyikan lagu cinta
si lebah hanya lewat
ah, Engkau dulu yang pertama bukan?

Johanes Berchman Sigit Noviandi, Februari 2008


Pages:123